Selasa, 14 Februari 2012

TEH INDONESIA SEBAGAI KOMODITI PERKEBUNAN YANG HARUS TETAP BERTAHAN ATAU TERGERUS AKIBAT PENURUNAN PANGSA PASAR....?

Teh sebenarnya merupakan komoditi perkebunan yang saat ini masih bertahan dan masih memiliki nilai jual tinggi di pasaran nasional maupun internasional yang masih dapat bersaing dengan beberapa komoditi perkebunan lainnya. Disamping itu dalam membudidayakan teh dalam skala besar dapat menguntungkan karena kegiatan budidaya teh yang diusahakan, perkebunan teh juga memiliki nilai jual tinggi yang lain yaitu pengembangan agrowisata perkebunan teh yang saat ini masih sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun internasional. Dengan menghandalkan pemandangan yang indah di sekitar perkebunan teh dan melihat langsung kegiatan budidaya teh sampai pengolahan teh menjadi sebuah produk yang bernilai jual tinggi.     
 Tanaman teh merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan yang menjadi salah satu tanaman unggulan selain Kelapa Sawit, Karet, Tebu, Kopi dan Kakao. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman teh dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor luar maupun faktor dalam tanaman teh itu sendiri, antara lain jenis atau varietas tanaman. Sedangkan faktor luar adalah faktor lingkungan, antara lain iklim dan tanah, dan teknik budidaya yang dipakai. Selain secara ekonomis, manfaat dilihat dari pengembangan perkebunan teh melalui usaha-usaha yang telah mampu membuka peluang lapangan pekerjaan besar bagi tenaga kerja daerah. Sementara dilihat dari fungsi ekologi, sebagian besar komoditi perkebunan merupakan tanaman tahunan yang mampu bertahan pada lahan-lahan kering dan kemiringan yang relatif tinggi. Sehingga dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk menjaga lingkungan.               
  Produksi teh Indonesia baik teh hitam dan teh hijau rata-rata pertahun  mencapai tidak kurang atau 70 % dari produksi teh nasional dihasilkan oleh provinsi Jawa Barat. Akan lebih dari itu, nilai produksi teh sebenarnya juga masih berpotensi terus bertambah seiring perkembangan produk turunan teh yang semakin pesat, baik berupa minuman siap saji, serta berbagai produk lain yang berpotensi pada kesegaran, kesehatan, kecantikan dan kebugaran bagi yang mengkonsumsinya. Inilah yang menjadi faktor penting mengapa eksistensi teh Indonesia perlu terus dikembangkan khususnya dalam segi bisnis oleh seluruh stakeholder perkebunan teh sehingga ke depan dapat menjadi komoditas unggulan perkebunan Indonesia. Dengan parameter utama berupa peningkatan kontribusi sektor perkebunan terhadap pertumbuhan perekonomian. Hingga kini perkembangan kinerja teh Indonesia sebenarnya cukup memprihatinkan yang ditandai terjadinya penurunan areal, kenaikan biaya produksi, mutu teh rakyat yang masih rendah dan belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), mesin dan peralatan serta harga teh ditingkat petani yang masih rendah akibat belum efisiensinya tata niaga teh. Teh milik petani, umumnya diakibatkan pada kondisi tanaman teh yang jkurang perawatan maksimal. Ditandai dengan kondisi tanaman yang kurang sehat, perdu-perdu banyak yang mati sehingga produktivitasnya sangat rendah rata-rata sekitar 930 kg per hektar per tahun dibandingkan dengan produksi yang dicapai kebun-kebun milik PTPN yang rata-rata sekitar 2.320 kg per hektar per tahun maupun perkebunan swasta yaitu 1.880 kg per hektar per tahun. Selain itu terjadi juga kerusakan pucuk teh rakyat yang terjadi selama pengangkutan, pada umumnya dapat mencapai 20 persen. Kerusakan pucuk ini akan mengakibatkan kualitas dan harga jualnya menjadi turun. Menurut data yang dihimpun, diperhitungkan kerugian dapat mencapai Rp 75 per kg pucuk basah dari harga Rp 450 per kg pucuk basah. Oleh sebeb itu permasalahan yang dihadapai usaha nasional perkebunan teh mencakup seluruh subsistem, mulai dari usaha tani sampai dengan pemasaran. Karenanya, berbagai upaya perbaikan harus dilakukan di setiap subsistem secara komprehensip dan terintegrasi menjadi sangat penting dalam pembangunan perkebunan teh di masa depan
Writed by :
Ilmal Bani Hasyim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar