Sabtu, 14 Juli 2012

KONTRIBUSI USAHA BUDIDAYA TEBU RAKYAT DI JAWA TIMUR DALAM MENINGKATKAN INDUSTRI GULA BERBASIS TEBU DI INDONESIA

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familia rumput rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah, namun masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut (dpl). Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan dan masih bertahan serta masih memiliki peranan penting dalam menentukan konsumsi pangan bangsa Indonesia. Tanaman tebu merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan yang menjadi salah satu tanaman unggulan selain Kelapa Sawit, Karet, Teh, Kopi dan Kakao.Usaha budidaya tebu dapat dilakukan pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan, dengan sistem TS (Tebu Sendiri) atau TR (Tebu Rakyat). Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha industri gula berbasis tebu antara lain pengelolaan pada aspek on-farm yakni penerapan kaidah teknologi budidaya yang baik dan benar mulai dari persiapan lahan, pengolahan dan penanaman yang mengikuti kaidah masa tanam optimal, pemilihan dan komposisi varietas bibit unggul bermutu dalam penggunaannya, pemeliharaan dan tebang angkut.


Secara umum, ada dua tipe pengelolaan pengusahaan tanaman tebu. Untuk Pabrik Gula (PG) swasta, kebun tebu dikelola dengan menggunakan manajemen perusahaan perkebunan (Estate) dimana Pabrik Gula sekaligus memiliki lahan HGU (Hak Guna Usaha) untuk pertanaman tebunya. Untuk Pabrik Gula milik BUMN, terutama yang berlokasi di Jawa, sebagian besar tanaman tebu dikelola oleh rakyat. Pabrik Gula di Jawa umumnya melakukan hubungan kemitraan dengan petani tebu. Secara umum, Pabrik Gula lebih berkonsentrasi pada pengolahan, sedangkan petani sebagai pemasok bahan baku tebu. Selain secara ekonomis, juga dapat diamati terus pengembangan perkebunan tebu melalui usaha-usahanya yang telah mampu membuka peluang lapangan pekerjaan besar bagi tenaga kerja daerah. 


Sejalan dengan revitalisasi sektor pertanian, industri gula nasional, atau industri gula berbasis tebu secara umum, harus melakukan revitalisasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, peningkatan investasi merupakan suatu syarat keharusan dan investasi pada industri gula berbasis tebu yang sebenarnya cukup prospektif. Secara keseluruhan, lahan perkebunan tebu di Indonesia saat ini mencapai kurang lebih 400.000 hektar sekitar 95% yang berada di Jawa dan Sumatera sisanya berada di Sulawesi dan daerah di Indonesia yang memiliki proporsi lahan tebu terluas terletak di provinsi Jawa Timur. Menurut sumber BKPM tahun 2008, total luas lahan tebu di Jawa Timur seluas 171.915 hektar yang saat ini merupakan sentra gula terbesar di Indonesia. Dari data Departemen Perindustrian bahwa pada tahun 2008 Indonesia memiliki 58 Pabrik Gula (PG), dimana 31 Pabrik Gula tersebut beroperasi di wilayah Jawa Timur dengan kapasitas giling total mencapai 86.278 TCD (Ton Canes per Day).                             


Dari sinilah yang menjadi faktor penting mengapa eksistensi tebu khususnya di Jawa Timur perlu terus dikembangkan khususnya dalam teknis budidaya dan manajemen pengelolaan kebun oleh seluruh stakeholder perkebunan tebu sehingga ke depan dapat terus menjadi komoditas unggulan. Dengan parameter utama berupa peningkatan kontribusi sektor perkebunan terhadap pertumbuhan perekonomian. Sampai saat ini perkembangan kinerja tebu Indonesia sebenarnya cukup memprihatinkan yang ditandai terjadinya penurunan areal, kenaikan biaya produksi, mutu tebu rakyat yang masih rendah dan belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), mesin dan peralatan serta harga tebu ditingkat petani yang masih rendah akibat belum efisiensinya tataniaga tebu secara maksimal. Permasalahan yang dihadapai perkebunan tebu yang lain yakni skala usaha nasional mencakup seluruh subsistem, mulai dari usahatani sampai dengan pemasaran. Berbagai upaya perbaikan harus dilakukan di setiap subsistem secara komprehensip dan terintegrasi sangat penting dalam pembangunan perkebunan khususnya dalam kegiatan manajemen budidaya tebu 


Hal ni dapat menjadi acuan pada setiap pihak untuk terus mengembangkan industri gula berbasis tebu. Dengan demikian maka akan menjadi tolak ukur dukungan mengenai kebijakan dan program ketahanan pangan gula untuk mempercepat investasi pada industri berbasis gula serta meningkatkan kesejahteraan petani tebu.       




Writed by :
Ilmal Bani Hasyim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar